Sejarah Tanaman Abadi

Sejarah Tanaman AbadiSEJARAH TANAMAN ABADI

Tanaman Abadi – Pernahkah Anda mendengar dengan istilah tanaman abadi? Iya benar sekali tanaman abadi atau Edelweis Jawa atau Bunga Senduro (Anaphalis javanica) ini merupakan bunga atau tanaman yang memiliki ciri-ciri warna hijau abu-abu muda karena pada bagian daunnya tertutup bulu-bulu seperti wol dan ketika bunga ini mengering warnanya menjadi gelap karena mesofil yang terdegradas.

Baca juga : Inspirasi Tanaman Hias Ruang Tamu

Tanaman Bunga Abadi

Anaphalis javanica tergolong dalam marga Compositae. Bunga Edelweis berkembang  di atas dasar bunga yang rata dan memiliki warna keemasan. Kepala sari dari bunga ini membentuk tabung yang berkumpul menjadi satu pada satu wadah (van Leeuwen, 1933). Bentuk daunnya linier, lancip, berbulu, memiliki panjang 4-6 cm dan lebar 0,5 cm (van Steenis, 1978).  Hidup dari tumbuhan ini sangat bergantung pada cahaya matahari, oleh karena itu Edelweis dapat tumbuh pada wilayah perbatasan antara hutan dan daerah terbuka (van Steenis, 1978). Edelweis dapat tetap tumbuh berkelompok pada tanah yang miskin hara. Hal itu dapat terjadi karena akar dari Edelweis dapat bersimbiosis dengan cendawan tertentu membentuk mikoriza yang membantu Edelweiss mencari unsur hara (van Leeuwen, 1933).

Baca juga : Jenis Tanaman Hias Bunga Krisan

Banyak orang yang menyoroti keindahan tumbuhan ini namun sedikit dari mereka yang memahami peran ekologis dari Edelweis. Bunga Edelweis merupakan sumber makanan bagi beberapa serangga, yaitu serangga dari ordo Hemiptera, Thysanoptera, Lepidoptera, Diptera, dan Hymenoptera. Tak hanya untuk serangga, kulit batangnya yang bercelah dan mengandung banyak air berguna sebagai tempat tinggal beberapa jenis lumut dan lichen, diantaranya adalah Cladinia calycantha dan Cetraria sanguinea. Selain itu burung-burung juga mencicipi manisnya kebaikan dari Edelweis. Oleh karena Edelweis memiliki ranting yang rapat maka burung Murai (Turdus sp) berdatangan untuk membangun sarang tempat tinggal mereka (van Leeuwen, 1933). Edelweis juga memiliki peran untuk manusia, salah satunya pada bidang kesehatan. Untuk masalah kesehatan Edelweis sering digunakan untuk pengobatan tradisional seperti mengobati sakit perut dan pernafasaan termasuk difteri dan tuberculosis (Retno, 2016).

Tumbuhan yang sempat menjadi ikon dalam perangko Indonesia ini dapat dijumpai pada ketinggian antara 1600 sampai 3600 mdpl. van Leeuwen (1933) mengatakan bahwa tumbuhan ini dapat dijumpai di Gunung Sumbing, G. Merbabu, G. Gede Pangrango, G. Ciremai, G. Lawu, G. Kawi, G. Arjuno, dan Dataran Tinggi Dieng. Selain itu menurut van Steenis (1978) Edelweis juga dapat ditemukan di pegunungan pulau Sumatera, Sulawesi, Bali, dan Lombok.

Baca juga : Macam Inspirasi Tanaman Hias untuk Taman Anda

flora-fauna-1 Edelweis Sebagai Ikon Perangko Indonesia

Habitatnya yang berada pada daerah pegunungan membuat tumbuhan ini dilekati oleh beberapa mitos. Banyak orang yang rela mendaki gunung untuk berjumpa dengan tumbuhan ini, namun terkadang hal tersebut disertai dengan perilaku tidak bertanggung jawab, memetik bunga ini untuk dibawa pulang contohnya. Edelweis dipetik karena mitos-mitos yang melekat pada dirinya. Orang-orang beranggapan bahwa Edelweis merupakan symbol cinta sejati dan keberanian karena untuk menjumpainya perlu menempuh perjalanan yang tidak mudah. Mitos-mitos itulah yang mengaburkan kelestarian dari Edelweis. Sebagai contoh Edelweis terlihat mendominasi puncak Gunung Gede Pangrango. Pada tahun 2012 sempat dilakukan pengukuran lapangan oleh Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Besar Taman Nasional Gunung Pangrango (BBTNGP), hasil pengukuran tersebut menyatakan bahwa luas area tumbuhan Edelweis tumbuh di daerah Alun-alun Surya Kencana Gunung Gede Pangrango adalah 51 Ha dan yang terindikasi mengalami degradasi adalah seluas 30 Ha (Retno, 2016).

Baca juga : Mengenal Tanaman Kuping Gajah

suryakencana-gunung-gede-x

Jika degradasi yang terjadi tidak segera ditindaklanjuti maka dapat dipastikan bahwa tumbuhan ini akan mengalami kepunahan. Tumbuhan endemic zona subalpine ini ada dalam perlindungan peraturan pemerintah bidang kehutanan dan tergolong dalam tanaman langka pada katagori jarang (rere), yaitu jenis tanaman yang populasinya besar namun hanya terdapat secara lokal di suatu daerah saja, atau daerah penyebarannya luas tapi sudah jarang dijumpai karena mengalami erosi dan tekanan yang berat (Retno, 2016). Spesies ini belum terdaftar pada IUCN. Meskipun demkian kelestariannya harus tetap dijaga karena selain indah tumbuhan ini juga memiliki peran penting dalam segi ekologis. Tumbuhan ini juga telah mulai dibudidayakan oleh masyarakat sekitar, salah satunya dengan stek. Kiranya julukan abadi selalu melekat padanya.

Baca juga : Manfaat Kandungan Pada Air Hujan Untuk Tanaman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat